Tambang emas sangkaropi tana toraja

Selain terkenal dengan budaya leluhur dan perkebunan kopi, toraja juga mulai dikenal dengan hasil tambang berupa emas.

Lokasi tambang ini ada di bagian utara dari kabupaten toraja utara.

Pemerintah Kabupaten Tana Toraja diminta meninjau kembali izin ekplorasi tambang galena dan emas terhadap tiga perusahaan swasta yang saat ini melakukan ekplorasi di dua lembang (desa) di Kecamatan Bittuang, masiLembang Bau dan Lembang Sasak. Pasalnya, aktivitas perusahaan-perusahaan tersebut menimbulkan keresahan dan berpotensi berpotensi memicu konflik horizontal di masyarakat.

“Harus segera ditinjau ulang atau dicarikan solusinya, karena kalau tidak saya khawatir terjadi konflik di masyarakat, karena kecenderungan ke sana sudah kelihatan,” tegas anggota DPRD Tana Toraja yang berasal dari Bittuang, Daniel Tandi Papalangi.

Menurut politisi PDI Perjuangan ini, baru-baru ini terjadi tindak kriminal yang menyebabkan dua warga harus berurusan dengan aparat kepolisian. Pangkal dari peristiwa kriminal tersebut adalah saling klaim lahan di lokasi eksplorasi pertambangan.

Karena ada tiga perusahaan yang mengklaim lokasi yang sama, warga juga saling klaim lokasi dan bekerja sama dengan perusahaan yang berbeda. Ujungnya, terjadi saling klaim.

Selain itu, ungkapnya, masyarakat Lembang Bau dan Lembang Sendana, juga menyatakan keberatan karena hak ulayat (tanah adat), yang merupakan tempat penggembalaan kerbau sejak zaman dahulu kala, diklaim pemerintah sebagai tanah negara (kawasan hutan). Padahal, harus dipahami bahwa
tidak ada tanah di Toraja yang merupakan tanah negara, yang ada adalah tanah ulayat dari Tongkonan.

“Ini semua yang harus diluruskan dulu sebelum pemerintah mengeluarkan izin pertambangan. Jangan sampai masyarakat dikorbankan demi kepentingan pemilik modal,” tandas Daniel.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tana Toraja, Enos Karoma, yang dimintai tanggapannya soal kisruh tumpang tindih izin pertambangan di Kecamatan Bittuang, mengakui ada tiga perusahaan swasta yang mengantongi izin yang sama. Meski demikian hanya dua perusahaan yang melakukan aktivitas
pada saat ini.

Persoalan kini yakni saling klaim lokasi dari perusahaan-perusahaan tersebut. Pemerintah, kata Enos, akan memfasilitasi ketiga perusahaan tersebut untuk mencari jalan keluar terbaik.

“Sebelumnya kita sudah fasilitasi mereka, tetapi belum ada kata sepakat. Kita akan lakukan lagi pertemuan dalam waktu dekat ini, sehingga izinnya tidak tumpang tindih lagi,” jelas Enos.

Sekedar diketahui, ada tiga Lembang di Kecamatan Bittuang, Kabupaten Tana Toraja, yang memiliki kandungan bahan tambang. Ketiga lembang ini, masing-masing Lembang Sasak, Lembang Bau, dan Lembang Cendana.

Menurut data yang diperoleh Palopo Pos, ada tiga perusahaan yang konon mengantongi izin untuk melakukan kegiatan eksplorasi tambang emas dan galena (timah hitam) di tiga lembang tersebut, masing-masing PT Christina Explo Mining, PT Novienindo Multi Resoueces dan PT Makale Toraja Mining. Selain persoalan dengan warga, izin eksplorasi ketiga perusahaan ini, konon juga masih bermasalah.

Bupati Theofilus Allorerung, sendiri mengakui pernah mempertemukan ketiga perusahaan ini di Jakarta untuk membicarakan masalah tumpang tindih perizinan yang mereka miliki. Namun pertemuan itu belum menemukan kata sepakat, karena masing-masing pihak masih mengklaim izin yang mereka kantongi, yang paling benar dan layak.

“Pernah memang ada pertemuan di Jakarta itu hari, tetapi belum ada kata sepakat. Karena ini bukan kebijakan saya, kalau nantinya tidak ditemukan kata sepakat, kita akan serahkan ke pemerintah pusat,” tegas Theofilus

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s